19 September 2012

Benarkan Dia Anakku?

Ketika seorang bayi pertama lahir, nampak merah mungil lucu dan menggemaskan dari Isteriku tercinta.  Dalam hatiku bertanya: BENARKAH DIA ITU ANAKKU ?

Dan selang tahun kemudian lahir juga adiknya, hingga terus isteri saya melahirkan hingga anak ke-5. Subhanallah. Tapi dalam hati terus menggelayut pertanyaan,  BENARKAH MEREKA ITU ANAK-ANAKKU ?

Tak sedikitpun keraguan terhadap isteriku bahwa anak-anak terlahir hasil kesejatian cinta yang dibalut dalam mahligai perkawinan.  100% haqul yaqin hasil buah cinta dari benih murniku dan mantan kekasihku.

Yang sekarang ada dalam pergumulan pertanyaan, "Kok bisa ya saya ini punya anak dan semuanya lahir dan besar secara sempurna? Padahal banyak pasangan suami isteri (pasutri) hingga bertahun-tahun belum punya momongan.

Sebuah keajaiban dimana terpilihnya satu pasangan trpilih antara sel sperma dari sekitar 100-300 juta  melakukan zygote dengan jutaan sel telur (ovum), berkembang hingga membentuk suatu struktur yang sangat rumit yang bernama manusia.

Anugrah yang luar biasa ketika Sang Pencipta, Allah Tuhan Semesta Alam memberikan reward berupa mahluk mungil nakal lucu dan pintar kepada kita sebagai pewaris tahta,  yang akan melanjutkan perjuangan kita, yang telah dirintis terlebih dahulu oleh para orang tua kita.

Saya masih belum percaya kalau itu hasil perjuangan saya dan selalu bertanya-tanya.

Karakter saya dan isteri terpecah menjadi 5 bagian, ada yang malas seperti bapaknya, ada yang cantik seperti ibunya, ada yang berkulit agak gelap mirip bapaknya, ada yang rajin memasak mirip ibunya, macam-macam,  menjadikan hidup ini unik dan amazing.

Sekalipun masih belum percaya, tapi tetap melahirkan rasa syukur yang luar biasa karena tidak sedikit orang tidak mendapat anugrah seperti saya.

Namun kini muncul pertanyaan menyelinap dalam hati,
  • Sudahkan saya menjadi Bapak yang sebenar-benarnya jadi orang tua untuk anak-anaknya?

  • Sudahkan saya berterima kasih pada sang isteri dengan benar yang telah menjaga melindungi anak-anakku dengan taruhan jiwa  raga sejak dia dalam kandungan hingga kini?

  • Sudahkan saya ini bersujud pada kuasa Illahi yang telah memberikan segalanya dengan ikhlas?
Akhirnya saya menatap berlama-lama wajah keriput ibuku yang mulai renta, yang telah melahirkanku untuk meminta pengampunan karena telah membuatnya bersusah payah dan mengorbankan kesenangan dirinya selama berpuluh-puluh tahun, hanya untuk melihat sang anak yang bengal tumbuh dewasa agar menjadi generasi berikutnya.

Ibu, Ibu, Ibuku kini aku sudah menjadi seorang ayah ...... sekalipun belum yakin saya ini seorang ayah......
.comment-content a {display: auto;}